Sejarah Email Marketing

Email marketing adalah salah satu strategi marketing yang paling bermanfaat di beberapa tahun terakhir, terutama pada tahun 2020-2021 lalu. Pada artikel ini, kita akan menemukan bagaimana semuanya dimulai, siapa penemu email, bagaimana awalnya email dikirim, pada tahun berapa email mulai digunakan, dan bagaimana email bisa sampai pada titik seperti saat ini.

So, what are we waiting for? Let's start...

1970 - Email ditemukan

1971 - Kebanyakan orang memberi Ray Tomlinson gelar penemu email. Ide tersebut didapatkan saat bekerja untuk ARPANET, proyek penelitian yang didanai pemerintah yang akhirnya menjadi internet. Pada saat itu, seseorang hanya dapat meninggalkan pesan untuk orang yang menggunakan komputer yang sama. Tomlinson membuat program yang memberi pengguna kemampuan untuk mengirim pesan antara komputer yang terhubung pada sistem ARPANET.

1978 - Gary Thuerk Marketing Manager Digital Equipment Corp (DEC), mengirim email yang mempromosikan mesin DEC ke 400 pengguna melalui ARPANET. Apa yang kemudian menjadi hal baru bagi penerima (menerima pesan penjualan/pemasaran langsung ke kotak masuk komputer mereka) menghasilkan penjualan senilai $13 juta untuk mesin DEC. Sejak saat itu, email diluncurkan sebagai saluran yang efektif untuk pemasaran langsung.

1991 - Pengenalan internet benar-benar merevolusi cara setiap orang akan hidup, bekerja, dan bermain. Bagi pemasar di seluruh dunia, ini membuka pintu ke sebuah cara baru komunikasi massa. Ketika Hotmail (kemudian dikenal sebagai HotMaiL) diluncurkan sebagai layanan email berbasis web gratis pertama, hal ini memberi pemasar cara baru untuk menjangkau pelanggan. Sebelumnya, email hanya tersedia untuk pelajar atau karyawan saja. Pengenalan alamat email pribadi (yang gratis dan tersedia untuk semua) mengubah cara pemasar untuk melakukan direct marketing.

Sampai tahun 1990-an, B2C direct marketing sebagian besar dilakukan melalui pos atau telepon, dan kedua metode tersebut sangat mahal. Dengan email, pemasar kini diberi cara yang hemat biaya dan cepat untuk menjangkau konsumen. Itu dilihat sebagai ledakan semua solusi pemasaran massal.

Kembali pada 1990-an, email masih dipandang sebagai sesuatu yang baru bagi konsumen; tetapi karena semakin banyak pemasar mulai ikut-ikutan, kotak masuk segera menjadi berantakan dengan pesan yang tidak diminta dan aturan mulai diberlakukan untuk melindungi konsumen dari 'spam'.

Pada tahun 1998 Undang-Undang Perlindungan Data diperbarui untuk memastikan semua email marketing menyertakan opt-out; pada tahun 2003 Can Spam Law diperkenalkan di AS yang menetapkan peraturan pertama untuk email komersial; pada tahun yang sama di Eropa, Peraturan Privasi dan Komunikasi Elektronik diperkenalkan yang mendefinisikan aturan untuk izin pemasaran; dan pada tahun 2004 Sender Policy Framework (SPF) diperkenalkan menyediakan sistem validasi email untuk membantu mencegah spam email dengan memverifikasi alamat IP pengirim.

Selama periode ini, volume email marketing yang dikirimkan mulai meningkat pesat, seperti halnya volume virus laden atau pharmaceutical spam mengubah lingkungan, email menjadi medan pertempuran virtual antara pengirim dan penerima email.

Pada tahun 2004, AOL telah mulai mengembalikan feedback penerima kepada beberapa penyedia layanan email, dengan Hotmail dan Yahoo memperkenalkan skema feedback penerima segera setelahnya. Tiba-tiba, pemasar dapat melihat pendapat penerima tentang email mereka, dan dapat menggunakan keluhan spam sebagai metrik.

Pada akhir tahun 1990-an, ISP telah memperkenalkan berbagai metode untuk melindungi pelanggan dari email yang "tidak diinginkan". Data Reputasi Pengirim Windows Live (2008) memungkinkan penerima untuk memilih apakah sebuah email adalah spam atau bukan; Hotmail Sweep dan Google's Priority Inbox (keduanya 2010), dibuat untuk membantu penerima merapikan kotak masuk mereka. Perkenalan seperti ini telah menyebabkan email marketing menjadi lebih strategis jika mereka ingin pesan mereka diperhatikan. Sekitar waktu yang sama, laporan yang dikeluarkan oleh beberapa organisasi marketing membantu memaksa pemasar untuk fokus pada strategi mereka jika mereka ingin sukses.

Pada tahun 2009 Return Path melaporkan hampir 30% email komersial yang dikirim ke pengguna tidak mencapai kotak masuk; pada tahun yang sama Merkle melaporkan kurangnya relevansi adalah alasan terbesar pengguna memutuskan untuk tidak menggunakan email. Dengan penerima yang dapat mendikte email apa yang mereka pilih untuk diterima dan diberi kekuatan untuk memblokir email yang tidak mereka inginkan.

Pemasar mulai menyadari bahwa mereka perlu menjaga reputasi email mereka atau jika tidak, mereka dapat berakhir di blacklist penerima atau di folder sampah. Untuk menjaga reputasi email mereka, pemasar perlu memastikan bahwa mereka melibatkan penerima.

Selain perubahan yang dipaksakan pada pemasar email oleh peraturan dan regulasi industri, perubahan budaya sosial juga memainkan peran integral dalam bagaimana email marketing telah berkembang.

Pada tahun 1992, smartphone pertama kali diluncurkan, yang memungkinkan akses email melalui ponsel, dan pada tahun 2007 Apple merilis iPhone pertama. Pada tahun 2011 Apple mengumumkan telah menjual lebih dari 100 juta iPhone dan pada tahun yang sama dilaporkan email digunakan oleh 75% pemilik iPhone di Inggris, menjadikannya aktivitas internet paling populer.

Pada 2012, dilaporkan lebih dari 40% email marketing dibuka melalui perangkat seluler. Dengan begitu banyak penekanan pada konsumen yang membaca email melalui ponsel, pemasar dipaksa untuk memikirkan bagaimana email mereka ditampilkan di ponsel.

Sekitar waktu ini, media sosial juga berdampak pada email marketing. Facebook diluncurkan secara publik (untuk siapa saja yang berusia di atas 13 tahun) pada tahun 2006. Pada akhir tahun 2007, situs tersebut memiliki lebih dari 100.000 halaman bisnis, yang memungkinkan perusahaan untuk menarik pelanggan potensial. Konsumen sekarang dapat berinteraksi dengan brand melalui berbagai channel; online, instore, Twitter, Facebook, email.

Dengan ledakan digital melalui media sosial dan seluler, konsumen mulai berharap lebih. Tiba-tiba mengumpulkan data dan pengolahan data menjadi penting. Saat ini sistem marketing automation yang memungkinkan segmentasi tingkat lanjut memungkinkan perusahaan mengirim komunikasi email yang sangat bertarget.

Praktik seperti konten dinamis telah diperkenalkan untuk menciptakan pengalaman yang berharga antara pengguna dan brand; dan dengan lebih menekankan pada relevansi dan keterlibatan untuk mencapai reputasi email yang baik, kualitas menggantikan kuantitas sebagai pendekatan strategis untuk email marketing.

Pada rentang waktu 2010-2013 adalah era di mana segmentasi dan targeted email berjaya dalam email marketing, hingga pada tahun 2012 DMA melaporkan bahwa 85% email marketer melakukan segmentasi pada list email mereka, dan pada tahun 2013 eMarketer melaporkan bahwa marketer yang menggunakan email automation memiliki potensi mendapatkan conversion rate sebesar 50%.

Ingin mengetahui lebih lanjut terkait dengan perkembangan email marketing. Kunjungi blog.mtarget.co atau ingin memulai campaign email marketing dengan MTARGET, segera daftarkan diri di mtarget.co.

(J.R)


MTARGET

MTARGET

Marketing automation tools #1 di Indonesia