Charlie Pramana: Mentoring untuk Mengembangkan Jiwa Pemimpin

Passionate, resourceful, dan family first adalah tiga nilai utama yang Charlie Pramana pegang sebagai pendiri Mentorin, sebuah komunitas mentoring yang didirikannya pada Juli 2021 untuk membantu orang mendapatkan akses ke seorang mentor.

Passionate, “Kalau sudah melakukan itu, ya itu,” kata Charlie. Sedangkan resourceful, dia jelaskan sebagai sesuatu yang akan dia lakukan ketika menemui sebuah masalah, yaitu mencari jalan keluar. Family first juga menjadi sebuah value penting setelah dia menikah.

Dan ketika ditanya seberapa resourceful dia, Charlie menjawab dengan memberi contoh aktivitas yang dia tekuni saat ini. Dia mengaku jika menggunakan pendekatan yang berbeda untuk memecahkan sebuah masalah.

Metode yang pertama adalah dengan cara mendidik rekan satu tim untuk dapat berkembang. “Saya senang dan tertarik melihat team members saya berkembang,” tuturnya. Buatnya hal ini menjadi sesuatu yang lebih penting ketika menemui sebuah challenge.

Metode kedua adalah dengan cara menjadi jembatan. “Dapat mengomunikasikan antara satu tim dengan tim lainnya.” Charlie juga menekankan pentingnya menggunakan kata-kata dan bahasa yang tepat ketika berbicara suatu masalah yang bersinggungan dengan berbagai divisi. “Inilah yang disebut Business Process Understanding,” jelasnya.

Latar Belakang Berdirinya Mentorin

“Karena kesadaran sendiri,” kata Charlie padat, jelas, dan singkat. Bergerak dari masa lalunya, dia berpikir andai saat masih kuliah ataupun awal mulai bekerja dapat menemukan seorang mentor yang dapat menunjukkan jalan yang tepat untuknya meniti karier, dia percaya jika kehidupan profesionalnya akan lebih mudah.

Keinginan untuk membantu dan memberikan kesempatan untuk mereka yang membutuhkan mentor sekarang adalah dua alasan besar mengapa Charlie membangun bisnisnya. “Walaupun kontribusi kami mungkin hanya beberapa persen saja, tapi kami senang melihat mentee meraih sesuatu yang baru.” Karena, “It takes time and effort to groom someone,” tambahnya.

Tips Mentoring

Charlie menjelaskan bahwa cara yang diperlukan untuk mentoring seseorang berbeda-beda. “Kita tidak bisa me-replicate metode karena setiap orang memiliki kemampuan dan background yang berbeda.” Dia mengimbuhkan jika ada yang diberi pelajaran sebentar sudah mengerti dan dapat mengaplikasikannya dengan cepat, dan ada juga yang memerlukan waktu yang lebih lama.

Buat Charlie, jurusan seseorang juga tidak penting dalam mengerjakan sebuah pekerjaan. “Yang paling penting adalah potensinya,” katanya. Apakah dia ingin belajar dan apakah cara berkomunikasinya tepat adalah dua hal yang Charlie tekankan dalam membimbing orang.

“Saya prefer yang belum jadi karena sense of achievement-nya lebih tinggi,” ujarnya. Yang awalnya selalu bertanya-tanya hingga menjadi seseorang yang bisa membuat penawaran ke atasannya adalah salah satu contoh kecil yang dapat Charlie berikan. “Saya hanyalah seorang broadcaster dari achievement mereka.”

Challenge yang Dihadapi Mentorin

Charlie bercerita jika perusahaan yang dia bangun sedang berada dalam 30-40% dari potensi maksimalnya. “Ada banyak yang bisa kami explore,” jelasnya. Dia juga berkata bisnisnya sedang membenahi internal team-nya karena dia ingin apa yang dia bangun memiliki orang-orang yang tepat.

Dia ingin mengubah approach perusahaannya untuk tidak hanya berkontribusi ke komunitas, tapi juga ke team member yang ada dengan cara mencari tahu skill gap-nya, bridge the gap, dan menyesuaikan karier yang mereka ingin. Setelah menyelesaikan challenge terbesarnya ini, yaitu finding the right person, Charlie yakin jika Mentorin akan menjadi perusahaan yang 70-80% ready.

Menjadi Pemimpin yang Baik

Charlie memberikan versi singkatnya tentang menjadi seorang leader yang baik. Pertama, harus terus belajar. Karena namanya ilmu tidak akan pernah habis.

Kedua, harus mengerti values yang dianut team members. Karena tidak semua orang berfokus untuk mendapatkan apresiasi. Dan yang ketiga adalah tidak bossy. Karena bos dan leader adalah dua orang yang berbeda.

Seorang pemimpin yang baik akan memberi dukungan ke team member-nya. “Karena kebetulan terlahir lebih dahulu, karena kebetulan mulai kerja lebih dahulu, atau juga kebetulan kenal orang lebih dahulu.”

Dia juga mengimbuhkan, “Memimpin tidak melulu tentang pekerjaan. Ada yang lain dari pekerjaan, yaitu kehidupan keseharian.” Saling berkomunikasi dan saling melengkapi adalah dua hal yang penting baginya.

Tips selanjutnya dari Charlie adalah hubungan seorang pemimpin itu tidak hanya dari atas ke bawah, tapi juga penting untuk seorang leader untuk dapat menerima feedback. “Kalau memang sarannya bagus, ya bisa dimasukkan ke plan, kalau tidak ya bisa di-challenge,” katanya.

Dan cara yang terakhir adalah untuk selalu bertanya kepada orang yang lebih senior untuk menemukan blindspot diri sendiri. Karena ini adalah hal yang tidak terlihat dan harus diberi tahu orang lain. Dia menutup dengan, “Try to improve, not to prove.”

Baca Juga

Tonton video perbincangan kami dengan Charlie Pramana selengkapnya di sini.

(A.F)