Bagaimana Retensi Marketing Dapat Membantu Mengurangi Bounce Rate

Retensi marketing sangat berpengaruh pada bisnis. Penerapannya akan membawa pada peningkatan penjualan. Tentu saja, metodenya tidak membuat pebisnis mengalami kelelahan dalam pencarian leads atau konsumen. Alasan utamanya, pelanggan sudah ada. Tinggal bagaimana pebisnis memaksimalkan aset tersebut.

Yakni, mendorongnya tetap tinggal dan melakukan pembelian berkali-kali.
Loyalitas pelanggan seperti ini tentunya sangat menguntungkan. Pasalnya, pebisnis tidak perlu mengalami kesulitan untuk menjual produk atau layanannya.

Menariknya lagi, setiap leads baru pertama kali masuk akan menambah jumlah aset. Tak salah jika kemajuan bisnis tinggal menunggu waktu saja. Pertanyaannya, bagaimana seorang pebisnis melakukan retensi marketing? Caranya adalah sebagai berikut.

Maksimalkan Platform Pengiriman Pesan
Keterlibatan seorang pelanggan begitu penting dalam sebuah bisnis. Kamu tentunya sudah menerapkan strategi supaya terjadi engagement tersebut.

Pemanfaatan berbagai saluran komunikasi menjadi contoh riil. Tujuan utamanya untuk mendapatkan tanggapan di setiap saluran dengan tujuan berbeda. Tetapi pada akhirnya, cara tersebut ditujukan untuk membuat konsumen tidak berpaling dari bisnis.

Salah satu contohnya, konsumen mungkin memanfaatkan chatbot untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan. Di samping itu, konsumen akan mencari informasi tambahan dengan menjelajahi pesan dari saluran email. Dengan kata lain, konsumen mencari kepastian dari seluruh saluran sebelum akhirnya mengambil keputusan.

Mempersonalkan Komunikasi
Mempersonalisasikan komunikasi bisa dibilang sebagai memanusiakan pelanggan. Artinya, membuatnya merasa diistimewakan oleh pebisnis. Itu merupakan cara paling baik dalam menyentuh hati pelanggan. Ketika hatinya tersentuh, mudah bagi pebisnis untuk mengarahkannya.

Berbeda jika perusahaan hanya fokus pada mempertinggi tampilan produk dan deskripsinya. Ada kemungkinan jika produk ini hanya dilihat saja. Malahan, dibandingkan dengan produk pesaing sehingga kemungkinannya untuk membeli lebih rendah.

Merubah Metode Pengukuran
Dahulu, perusahaan mengukur ROI dengan membandingkan harga jual produk dengan investasi untuk mendapatkan satu pelanggan. Pengukuran ini mulai tergantikan. Karena kenyataannya, pelanggan mulai cerdas dalam menentukan barang yang akan dibeli.

Kebanyakan pembeli mulai mempertimbangkan durasi pemakaian dari sebuah produk. Artinya, pelanggan memang membelinya lantaran produknya bermanfaat baginya. Jadi, pertimbangkanlah untuk menunjukkan manfaat ketimbang hanya menampilkan produk saja.

Selain itu, ukurlah seberapa banyak biaya yang dikeluarkan oleh pelanggan di tiap kali membeli. Pengukuran ini memungkinkan kamu untuk menerapkan retensi marketing dengan tepat. Yakni, memberikan diskon khusus tanpa mempengaruhi pendapatan.

Memberi Penawaran Eksklusif
Strategi seperti ini sangat berguna untuk mendorong pembelian secara berulang. Sebagian besar pebisnis mulai menggunakan metode tersebut. Karena, keuntungan dari bisnis lebih nyata. Salah satu caranya ialah dengan memberikan penawaran diskon yang tampak urgent. Cara ini dapat mendorong calon pembeli untuk segera memanfaatkannya.

Atau, penawaran seperti penukaran produk lama dengan produk baru. Ini juga cukup bagus untuk menggerakkan keinginan pelanggan dalam mendapatkan produk di tempatmu. Untuk mendukung strategi ini, kamu memerlukan sarana. Mulai dari pop up dalam sebuah aplikasi, atau email marketing.

Fungsinya sangat jelas. Penawaran ini dapat dilihat oleh pelanggan. Atau, menjadi pengingat bahwa penawaran ini hanya bisa didapatkan dalam beberapa hari saja.

Menerapkan Kampanye Pemasaran Retensi
Cara terakhir untuk mengurangi bounce rate dengan retensi marketing ialah menerapkan kampanye pemasaran yang sesuai. Pengiriman email pemasaran disesuaikan dengan kondisi pelanggan. Setidaknya, jenisnya dapat menyelesaikan permasalahan seperti pelanggan sudah tidak berinteraksi lebih dari 10 hari, pelanggan sudah mendaftar ke layanan tapi belum install aplikasi, pelanggan mengabaikan keranjang, hingga pengguna sudah tidak aktif dalam waktu yang lama.

Kamu perlu mendefinisikan seperti apa pelanggannya. Kelompokkan berdasarkan permasalahan yang terjadi. Kemudian, kirimkan pesan yang sesuai untuk mendorongnya ke tingkat selanjutnya.

Contohnya re-engagement email yang ditujukan bagi pengguna yang telah lama tidak aktif. Tujuannya mengingatkan kembali aktivitas pelanggan serta menambahkan layanan yang menguntungkan jika membeli produk lagi.
Itulah beberapa retensi marketing yang dijalankan oleh pebisnis besar. Sejauh ini, cara tersebut berhasil menjaga konsumen tetap aktif. Bahkan, melakukan pemesanan lagi di tempat pebisnis.

Baca Juga

Ingin mendapatkan tips dan trik menarik seputar digital marketing? Kunjungi blog kami di blog.mtarget.co. atau ingin memulai campaign email marketing dengan MTARGET, segera daftarkan diri kamu melalui mtarget.co kamu juga bisa subscribe newsletter kami di sini dan jangan lupa bergabung di channel Telegram MTARGET untuk informasi lainnya seputar MTARGET dan berita-berita terbaru.
(M.M) Edt (P.J)


MTARGET

MTARGET

Marketing automation tools #1 di Indonesia